Cinta


Kau benar, sobatku, aku tak tahu dan tak mengerti makna cinta, tapi
telah kudekati ia dengan kalbuku disetiap renunganku, lalu kupaparkan
hatiku padanya, dan kini, sobatku, kukatakan padamu.

            

Cinta merupakan samudra penciptaan kejadian. Ia menghidupi mahluk
yang ada di bumi dengan kasihnya yang tersebar di seluruh permukaan
bumi, bahkan di sudut-sudut ngarai dan di dasar-dasar jurang yang gelap.

            

Airnya yang telah menenggelamkan gurun-gurun pasir, jurang-jurang
yang terjal dan lembah-lembahnya yang menyesatkan musafir, dan adalah
airnya yang membuat apel terasa manis. Bahkan ia hidup di dalam tubuh
kita dengan ikan-ikannya yang kemudian menikmatkan hidangan makan
malam. Serta gurun-gurunnya yang memberikan berkah setelah mengering
ombaknya.

            

Jikalau kamu arungi luasnya tanpa perahu yang kokoh, maka bersiaplah
kamu menjadi santapannya. Atau mungkin kilau mutiara di dasarnya telah
merasuki sukmamu untuk menyelaminya, maka pastikan kamu bisa berenang
serta pastikan tubuhmu mampu bertahan atas tekanannya.

            

Memiliki cinta sama seperti memindahkan samudra ke sebuah piala.
Memberikan cinta sama seperti si gila menerangkan kegilaannya pada si
waras. Menyimpan cinta berarti menyimpan gunung dalam sebuah mangkuk
nasi. Maka sebaiknyalah ia kau jadikan serupa air yang mengalir deras
melalui sungai-sungai bathin dan hatimu yang menuju ke laut kehidupan
agar nantinya ia menjadi bagian dari samudra pengetahuan, tangan dari
yang Maha Tinggi.

            

Sekali lagi kau benar sobatku, aku tak tahu pun tak mengerti makna
cinta. Karena inilah aku yang kau temukan terlahir sebagai manusia tak
akan pernah mampu memahami ke-Maha Agung-an ilmu-Nya yang Maha Mulia.
Jikapun ku mencoba menembus batas-batas kemanusiaanku untuk
memahaminya, niscaya aku akan hancur sebelum terlahirkan. Dia yang
memiliki dan Dia pulalah yang memahami rahasianya.

(Agus Supriyanto, dikutip dari www.filsafatkita.net)

Leave a Reply